20100510
20100422
20100414
biasanya pagi-pagi bangun tidur pasti kuraih buku kehidupanku dan menyerap kekuatanku untuk sepanjang hari...
tapi entah kenapa pagi ini rasanya pancuran air di kamar mandi lebih mengundangku untuk bergerak dan sesudahnya rentetan kesibukan lainnya seperti menarikku yang tanpa sadar pun segera mengikuti..
salahkah aku? kalau aku salah, apa sih sebenarnya kesalahanku? karena ada tauratku yang kulanggar? atau mungkin itu hanya tuduhan si jahat yang tidak perlu kulayani?
sebentar aku meneropong ke dalam hati nurani.. tidak ada yang salah di sana.. hanya memang harus kuakui kutemukan kerinduan di sana.. seperti seorang kekasih yang menanti-nantikan perhatian yang belum kunjung terjawab..
aku ga tau siapa merindukan siapa.. mungkin aku sendiri yang merindukanNya, atau itu Dia yang merindukanku.. tapi dari apa yang terjadi sepanjang pagi ini, sesuatu yang pasti telah kupelajari.. ternyata... melipat tangan, menundukkan kepala dan menutup mata, meminta RohNya memindahkanku ke surga agar aku dapat bertemu dengan Bapa, menyerahkan diriku dan seluruh hari untuk mendapat jamahanNya, adalah ritual yang tak dapat kutinggalkan..
sebagian orang menyebutnya ritual, tapi bagiku itu adalah kebutuhan.. agar aku dapat berjalan dipenuhi dengan damai sejahteraNya, sukacitaNya dan berkat-berkatNya..
20100413
sementara aku melupakan untuk menulis, sempat fasilitatorku di Haggai Institute Women Session Singapore baru-baru ini mengingatkan bahwa menulis harus dilakukan setiap hari.. aaagh.. itu kerinduanku tapi sebenarnya cenderung kuhindari karena kalo sudah menulis sulit sekali untuk berhenti..
dan setelah kubaca-baca kembali sepertinya blog ini bersifat sangat narsis sekali.. semuanya mengenai aku, dan aku dan aku lagi.. membosankan..
ingin rasanya kutulis yang lain, tapi ini yang ada di hatiku, ini adalah kejujuranku..
mungkin kalaupun tidak dapat dinikmati oleh orang lain, paling tidak ada catatan tentang sejarah perbendaharaanku...
mungkin bagianku adalah terus rajin menulis kembali, dan mengucap syukur selalu...
20090417
Seberapa nilaiku?
Tulisanku kali ini mungkin terkesan bertele-tele. Berputar-putar tanpa ujung. Tapi memang demikian sebenarnya gambaran yang ingin kuceritakan. Terkadang aku memang seperti itu, bertele-tele, bahkan mungkin sedikit bebal, seperti Thomas, penuh ketidak-percayaan, bila belum melihat bukti aku sulit untuk menerima kebenaran, bahkan baru dapat menerima kebenaran setalah menerima bukti berkali-kali. Contohnya seperti di bawah ini.
Saat aku mengerti bahwa aku jauh dari sempurna, aku mulai bertanya kepada Penciptaku, Pemilikku... apakah aku dapat menjadi sempurna? Ternyata jawabanNya tak seperti yang kubayangkan. DikatakanNya bahwa sesungguhnya aku sudah sempurna, yang perlu kulakukan hanyalah mengeluarkan kesempurnaan itu dari padaku. Tak ada sesuatu pun yang dapat menahanku dari mengeluarkan kesempurnaan itu kecuali aku sendiri.
Betul juga. Kupikir-pikir lagi, tak seorang pun yang mengatakan aku tidak bisa, tapi sering kudengar aku mengatakannya bagi diriku sendiri. Tak seorangpun mengatakan aku tidak punya apa yang diharapkan dari padaku, tapi memang aku sendiri yang sering mempertanyakannya. Banyak orang mengakui diberkati melaluiku, tapi aku sering meragukannya. Semua orang percaya masa depanku luar biasa, terkadang aku mempertanyakannya kepada Dia..
Tapi dari semua kebodohan dan keterbatasanku, ternyata Dia tetap tidak mau mengubah pandanganNya. Tetap dengan tegas mengatakan bahwa aku sudah sempurna. Bahkan dikatakanNya bahwa kesempurnaanNya adalah kesempurnaanku. Hanya Dia balik bertanya kepadaku, apa yang ingin kulakukan dengan kesempurnaan itu?
Ini pertanyaan yang cukup menggelitik bagiku. Ini pertanyaan yang membuatku menjadi tercenung. Sedikit gelisah... yang kudapati ternyata aku menaruh harga yang begitu rendah terhadap diriku sendiri... sehingga lebih sering aku memutuskan mungkin ini bukanlah saatnya untuk melakukan apa-apa. Bukan waktuku untuk menghasilkan apa-apa. Bukan bagianku untuk mengadakan perubahan apapun...
Sementara Dia sendiri tak pernah menyesali karuniaNya kepadaku. Dia tak pernah menahanku untuk lakukan apapun. Terkadang bahkan Dia tak menahanku dari melakukan kesalahan. Mencegahku ya, tapi tidak menahanku. Sepanjang kesalahanku tidak membawa pada kehancuranku. Mungkin aku yang lebih sering memaksa untuk Dia izinkan aku melakukan apa yang kukehendaki. Dia hanya kemudian mengingatkanku apa yang menjadi kehendakNya. Tapi Dia tak pernah memaksakan kehendakNya bagiku.
Padahal apa yang kukehendaki sering kali membawaku justru menjauh dari kesempurnaan yang telah ditaruhNya dalamku... saat aku dapati aku jauh dari itu semua, ingin rasanya menyalahkan Dia ketimbang mengambil tanggung jawab untuk menanggung kesalahan yang kupilih sendiri untuk melakukannya. Malu rasanya mengakui bahwa aku yang sebenarnya bersalah dari awalnya. Tapi sikap seperti itu pun tidak memberikanku pilihan apa-apa, semakin kucari semakin sulit kutemukan kesalahan yang ada padaNya... Dia sungguh-sunggguh sempurna, dan tentunya Dia tak salah saat katakan aku diciptakanNya juga sempurna. Tentu yang sempurna hanya dapat melahirkan yang sempurna juga. Lalu kenapa aku masih harus mengambil jalan-jalanku sendiri?
Kejadian seperti ini terkadang harus berkali-kali terjadi. Sepertinya ada raasa penasaran kalau aku belum membuktikan diriku benar. Walaupun berkali-kali juga aku harus akui bahwa hanya Dia saja yang benar. Dan memang bahkan tak pernah kubuktikan bahwa aku yang benar. Hingga akhirnya kuputuskan, biarlah kebenaranNya menjadi kebenaranku. Agar kesempurnaanNya menjadi kesempurnaanku. Kalau Dia telah mengatakanNya, biarlah terjadi demikian, karena memang demikianlah halnya harus terjadi.
20090403
mencari hari yang sempurna
atau paling tidak demikianlah aku merasa sehari-hari, kurang lebih aku merasa bahwa aku orang yang tidak melakukan kesalahan apa pun, tidak memaki siapa pun, tidak berpikiran salah sedikitpun. terlebih hal itu menjadi semakin kuat kurasakan saat kudapati banyak orang yang merasa mendapat berkat dari pekerjaanku, pelayananku terhadap mereka dan dari kehidupanku.
tetapi setelah kupikir-pikir kembali, apakah ada hari yang sempurna, saat semua yang kuinginkan terjadi memang betul telah terjadi, seperti yang kubayangkan harus terjadi... mungkin aku harus mengatakan secara jujur bahwa hari-hari sedemikian ternyata terlalu sulit untuk kudapati. dan kalau hariku menjadi sempurna karena aku adalah pribadi yang sempurna, dan aku lah yang berotoritas untuk memutuskan bahwa hariku terjadi dengan sempurna, kembali rasanya aku harus mengakui bahwa aku tidak berani untuk mengatakan bahwa ada hari di mana kudapati sedemikian...
so? apakah aku harus tetap mencari atau berhenti mencari? ataukah aku harus terus berusaha atau tak perlu lagi berusaha?
kebingingunganku mencari jawaban yang tepat sempat bercokol di pikiranku beberapa waktu lamanya... hingga kusadari... kesempurnaan sesungguhnya hanyalah sejauh pandanganku kepada Dia...
Saat kupandang Dia, senyumanNya, tanganNya yang terbuka, masa depan yang disediakanNya... aku tahu aku tidak perlu mencari apa-apa... aku hanya perlu menghidupi kehidupan yang disediakanNya... dan dari Pribadi Yang Sempurna itu hanyalah kehidupan sempurna yang dapat tersedia...
untuk menghidupinya aku tak perlu menjadi sempurna lebih dulu, yang kuperlu adalah membuka hati dan mengatakan, "ya.. aku mau Engkau ada di hatiku, menjadi Penuntun jalan kehidupanku", dan membiarkan tanganNya yang berlubang paku sebagai jawaban atas segala kesalahan dan kelemahanku membimbingku terus masuk dalam masa-masa depan yang terdiri dari kebaikan demi kebaikannya...
Selamat datang dalam kesempurnaan... Join me?
20090331
cita-citaku tidak membutuhkan aku
sering aku membayangkannya... sambil senyum-senyum sendiri.. wow.. luar biasa sekali kalau pada akhirnya aku tiba di sana.. aku perhatikan bagaimana aku sedang bergerak, dengan senyuman yang pas dengan kejadian dan prestasi yang kucapai.. dan kuperhatikan juga orang-orang yang ada di sekitarku saat itu... banyak yang belum kukenal tentu.. dan lingkunganku.. berbeda sekali dengan apa yang kumiliki hari ini...
tapi tunggu... setelah kusimak baik-baik, aku mulai menyadari bahwa aku pada cita-citaku ternyata bukan aku yang sekarang... sangaaat jauh berbeda bahkan.
bukan aku yang berantakan, malas tersenyum, malas melihat kiri dan kanan, malas membangun hubungan, lebih sering dari tidak malasku yang terbesar kutemukan saat aku bangun pagi, malas makan, apalagi makan vitamin, hohhooooh.... dalam cita-citaku kulihat aku tidak seperti itu... rasanya itu bukan aku... itu orang lain...
tapi sulit sekali bagiku untuk melepaskan diri dari cita-citaku.. hal itu terus terbayang semakin hari semakin jelas... tapi bagaimana mungkin kucapai kalau ternyata cita-citaku sendiri tidak membutuhkan aku... aku yang sekarang...
ini yang akhirnya membuat aku bertanya-tanya... aku yang terkini ternyata tidak memenuhi kriteria yang diperlukan untuk menggapai cita-citaku... dan artinya? hah? berarti... berarti untuk mencapai cita-citaku, aku harus membuang aku yang terkini? aku harus mengorbankannya? aku harus meninggalkannya? menanggalkannya? mereka tidak membutuhkan aku... mereka bahkan tidak bisa bekerja sama dengan aku.. aku sendiri tidak ada dalam skenario itu... aku tidak diperhitungkan sama sekali...
memiliki cita-cita akhirnya bagiku sama seperti mendekati hari kematian... ada yang kupertahankan tetapi aku tahu bahwa kerelaanku menentukan segala keberhasilan.. aku mau merelakan segalanya..., ooops tunggu dulu, did I saya segalanya? bagaimana dengan diriku sendiri? setelah aku merelakan segalanya ternyata itu belum cukup... cita-citaku malah masih menuntut agar aku merelakan diriku juga... hiks hiks hiks...
rasanya aku ingin berlari kesana kemari mencari pintu untuk keluar, tetapi semua pintu ternyata terkurung dengan rapat, dan... here I am... sampai aku menyadari bahwa jalan keluar satu-satunya adalah pintu menuju cita-citaku... yang jelas-jelas tidak membutuhkan aku hari ini... aku harus masuk ke pintu cita-citaku dan meninggalkan aku di sini... aku tidak harus melakukannya, tapi aku dapat memilih untuk melakukannya dan aku dapat memilih untuk mau melakukannya...