20090417

Seberapa nilaiku?

Tulisanku kali ini mungkin terkesan bertele-tele. Berputar-putar tanpa ujung. Tapi memang demikian sebenarnya gambaran yang ingin kuceritakan. Terkadang aku memang seperti itu, bertele-tele, bahkan mungkin sedikit bebal, seperti Thomas, penuh ketidak-percayaan, bila belum melihat bukti aku sulit untuk menerima kebenaran, bahkan baru dapat menerima kebenaran setalah menerima bukti berkali-kali. Contohnya seperti di bawah ini.


Saat aku mengerti bahwa aku jauh dari sempurna, aku mulai bertanya kepada Penciptaku, Pemilikku... apakah aku dapat menjadi sempurna? Ternyata jawabanNya tak seperti yang kubayangkan. DikatakanNya bahwa sesungguhnya aku sudah sempurna, yang perlu kulakukan hanyalah mengeluarkan kesempurnaan itu dari padaku. Tak ada sesuatu pun yang dapat menahanku dari mengeluarkan kesempurnaan itu kecuali aku sendiri.


Betul juga. Kupikir-pikir lagi, tak seorang pun yang mengatakan aku tidak bisa, tapi sering kudengar aku mengatakannya bagi diriku sendiri. Tak seorangpun mengatakan aku tidak punya apa yang diharapkan dari padaku, tapi memang aku sendiri yang sering mempertanyakannya. Banyak orang mengakui diberkati melaluiku, tapi aku sering meragukannya. Semua orang percaya masa depanku luar biasa, terkadang aku mempertanyakannya kepada Dia..


Tapi dari semua kebodohan dan keterbatasanku, ternyata Dia tetap tidak mau mengubah pandanganNya. Tetap dengan tegas mengatakan bahwa aku sudah sempurna. Bahkan dikatakanNya bahwa kesempurnaanNya adalah kesempurnaanku. Hanya Dia balik bertanya kepadaku, apa yang ingin kulakukan dengan kesempurnaan itu?


Ini pertanyaan yang cukup menggelitik bagiku. Ini pertanyaan yang membuatku menjadi tercenung. Sedikit gelisah... yang kudapati ternyata aku menaruh harga yang begitu rendah terhadap diriku sendiri... sehingga lebih sering aku memutuskan mungkin ini bukanlah saatnya untuk melakukan apa-apa. Bukan waktuku untuk menghasilkan apa-apa. Bukan bagianku untuk mengadakan perubahan apapun...


Sementara Dia sendiri tak pernah menyesali karuniaNya kepadaku. Dia tak pernah menahanku untuk lakukan apapun. Terkadang bahkan Dia tak menahanku dari melakukan kesalahan. Mencegahku ya, tapi tidak menahanku. Sepanjang kesalahanku tidak membawa pada kehancuranku. Mungkin aku yang lebih sering memaksa untuk Dia izinkan aku melakukan apa yang kukehendaki. Dia hanya kemudian mengingatkanku apa yang menjadi kehendakNya. Tapi Dia tak pernah memaksakan kehendakNya bagiku.


Padahal apa yang kukehendaki sering kali membawaku justru menjauh dari kesempurnaan yang telah ditaruhNya dalamku... saat aku dapati aku jauh dari itu semua, ingin rasanya menyalahkan Dia ketimbang mengambil tanggung jawab untuk menanggung kesalahan yang kupilih sendiri untuk melakukannya. Malu rasanya mengakui bahwa aku yang sebenarnya bersalah dari awalnya. Tapi sikap seperti itu pun tidak memberikanku pilihan apa-apa, semakin kucari semakin sulit kutemukan kesalahan yang ada padaNya... Dia sungguh-sunggguh sempurna, dan tentunya Dia tak salah saat katakan aku diciptakanNya juga sempurna. Tentu yang sempurna hanya dapat melahirkan yang sempurna juga. Lalu kenapa aku masih harus mengambil jalan-jalanku sendiri?


Kejadian seperti ini terkadang harus berkali-kali terjadi. Sepertinya ada raasa penasaran kalau aku belum membuktikan diriku benar. Walaupun berkali-kali juga aku harus akui bahwa hanya Dia saja yang benar. Dan memang bahkan tak pernah kubuktikan bahwa aku yang benar. Hingga akhirnya kuputuskan, biarlah kebenaranNya menjadi kebenaranku. Agar kesempurnaanNya menjadi kesempurnaanku. Kalau Dia telah mengatakanNya, biarlah terjadi demikian, karena memang demikianlah halnya harus terjadi.

20090403

mencari hari yang sempurna

aku sedikit bingung memberikan judul entry kali ini. maksudku mencari hari di mana semua terjadi dengan sempurna atau aku sedang mencari hari di mana kudapati aku yang sempurna...

atau paling tidak demikianlah aku merasa sehari-hari, kurang lebih aku merasa bahwa aku orang yang tidak melakukan kesalahan apa pun, tidak memaki siapa pun, tidak berpikiran salah sedikitpun. terlebih hal itu menjadi semakin kuat kurasakan saat kudapati banyak orang yang merasa mendapat berkat dari pekerjaanku, pelayananku terhadap mereka dan dari kehidupanku.

tetapi setelah kupikir-pikir kembali, apakah ada hari yang sempurna, saat semua yang kuinginkan terjadi memang betul telah terjadi, seperti yang kubayangkan harus terjadi... mungkin aku harus mengatakan secara jujur bahwa hari-hari sedemikian ternyata terlalu sulit untuk kudapati. dan kalau hariku menjadi sempurna karena aku adalah pribadi yang sempurna, dan aku lah yang berotoritas untuk memutuskan bahwa hariku terjadi dengan sempurna, kembali rasanya aku harus mengakui bahwa aku tidak berani untuk mengatakan bahwa ada hari di mana kudapati sedemikian...

so? apakah aku harus tetap mencari atau berhenti mencari? ataukah aku harus terus berusaha atau tak perlu lagi berusaha?

kebingingunganku mencari jawaban yang tepat sempat bercokol di pikiranku beberapa waktu lamanya... hingga kusadari... kesempurnaan sesungguhnya hanyalah sejauh pandanganku kepada Dia...

Saat kupandang Dia, senyumanNya, tanganNya yang terbuka, masa depan yang disediakanNya... aku tahu aku tidak perlu mencari apa-apa... aku hanya perlu menghidupi kehidupan yang disediakanNya... dan dari Pribadi Yang Sempurna itu hanyalah kehidupan sempurna yang dapat tersedia...

untuk menghidupinya aku tak perlu menjadi sempurna lebih dulu, yang kuperlu adalah membuka hati dan mengatakan, "ya.. aku mau Engkau ada di hatiku, menjadi Penuntun jalan kehidupanku", dan membiarkan tanganNya yang berlubang paku sebagai jawaban atas segala kesalahan dan kelemahanku membimbingku terus masuk dalam masa-masa depan yang terdiri dari kebaikan demi kebaikannya...

Selamat datang dalam kesempurnaan... Join me?

20090331

cita-citaku tidak membutuhkan aku

seperti orang-orang lain, aku juga punya cita-cita. walaupun sudah berkepala empat (percayalah kepalaku masih tetap yang itu-itu juga dan jumlahnya memang cuma satu... hhhmmmh bahasa kita mungkin sedikit mengerikan ya...), aku tetap merasa bahwa ada sesuatu di jauh sana yang harus kucapai.

sering aku membayangkannya... sambil senyum-senyum sendiri.. wow.. luar biasa sekali kalau pada akhirnya aku tiba di sana.. aku perhatikan bagaimana aku sedang bergerak, dengan senyuman yang pas dengan kejadian dan prestasi yang kucapai.. dan kuperhatikan juga orang-orang yang ada di sekitarku saat itu... banyak yang belum kukenal tentu.. dan lingkunganku.. berbeda sekali dengan apa yang kumiliki hari ini...

tapi tunggu... setelah kusimak baik-baik, aku mulai menyadari bahwa aku pada cita-citaku ternyata bukan aku yang sekarang... sangaaat jauh berbeda bahkan.

bukan aku yang berantakan, malas tersenyum, malas melihat kiri dan kanan, malas membangun hubungan, lebih sering dari tidak malasku yang terbesar kutemukan saat aku bangun pagi, malas makan, apalagi makan vitamin, hohhooooh.... dalam cita-citaku kulihat aku tidak seperti itu... rasanya itu bukan aku... itu orang lain...

tapi sulit sekali bagiku untuk melepaskan diri dari cita-citaku.. hal itu terus terbayang semakin hari semakin jelas... tapi bagaimana mungkin kucapai kalau ternyata cita-citaku sendiri tidak membutuhkan aku... aku yang sekarang...

ini yang akhirnya membuat aku bertanya-tanya... aku yang terkini ternyata tidak memenuhi kriteria yang diperlukan untuk menggapai cita-citaku... dan artinya? hah? berarti... berarti untuk mencapai cita-citaku, aku harus membuang aku yang terkini? aku harus mengorbankannya? aku harus meninggalkannya? menanggalkannya? mereka tidak membutuhkan aku... mereka bahkan tidak bisa bekerja sama dengan aku.. aku sendiri tidak ada dalam skenario itu... aku tidak diperhitungkan sama sekali...

memiliki cita-cita akhirnya bagiku sama seperti mendekati hari kematian... ada yang kupertahankan tetapi aku tahu bahwa kerelaanku menentukan segala keberhasilan.. aku mau merelakan segalanya..., ooops tunggu dulu, did I saya segalanya? bagaimana dengan diriku sendiri? setelah aku merelakan segalanya ternyata itu belum cukup... cita-citaku malah masih menuntut agar aku merelakan diriku juga... hiks hiks hiks...

rasanya aku ingin berlari kesana kemari mencari pintu untuk keluar, tetapi semua pintu ternyata terkurung dengan rapat, dan... here I am... sampai aku menyadari bahwa jalan keluar satu-satunya adalah pintu menuju cita-citaku... yang jelas-jelas tidak membutuhkan aku hari ini... aku harus masuk ke pintu cita-citaku dan meninggalkan aku di sini... aku tidak harus melakukannya, tapi aku dapat memilih untuk melakukannya dan aku dapat memilih untuk mau melakukannya...

20090324

yang pertama-tama tentu aku

sabar dulu... bukan maksudku untuk menjadi narsis... tetapi judul di atas memang benar... yang pertama-tama tentu aku.... yaaaaang... BERSALAH.

karena di-ikutsertakan dalam penyelesaian masalah teman sekorps di mana aku harus menjadi orang yang mendampinginya kesana kemari untuk meminta maaf dan menyelesaikan hal-hal yang memang sudah tertunda lama, aku sendiri tidak tahu tepatnya kenapa... tapi ini yang kupelajari:

penyelesaian dimaksud sebenarnya bertujuan agar temanku bertobat, menyadari kesalahannya dan berubah dalam sikapnya. tetapi alih-alih bersikap demikian, sang teman justru menyalahkan segala macam pihak itu bukan dirinya...

buatnya... dia selalu benar... mungkin juga dia punya pengurapan seorang raja... karena memang kan pernah dikatakan, the king can do no wrong...

hanya memang harus kuakui, sikapnya yang cukup pongah itu tidak mengundang simpati dari siapapun (kecuali dirinya sendiri tentu). terlebih-lebih diriku, aku jadi-jadinya malah sangat bersyukur kepada Tuhan, walaupun pasti masih banyak sikapku yang juga masih pongah tetapi rasa-rasanya aku masih punya hati nurani yang dapat membedakan bahwa tidaklah tepat sebagai seseorang yang telah melakukan kesalahan untuk bersikap seolah-olah dirinya tak pernah bersalah malahan menyalah-nyalahkan orang lain...

karenanya dari hal ini aku belajar sesuatu.. bahwa dalam segala persoalan, pasti aku juga punya andil salah. karenanya saat menghadapi persoalan, yang pertama-tama tentu aku yang harus kuselidiki dengan segala kejernihan di hati... apa bagianku yang tidak kulakukan?

aku terlalu berpusat pada keuntungan pribadi di pihakku sendiri? aku kurang dapat menerima kekurangan-nya? aku kurang punya tempat di hati buat segala hal yang menjengkelkan itu?

alih-alih berfokus pada benefits yang menurutku seharusnya aku dapatkan... aku melihat bahwa justru yang cepat memberikan hasil adalah bila aku memikirkan apa yang menjadi keuntungan-nya, atau bagaimana caranya aku dapat menerima dia dengan segala kekurangannya yang menjengkelkan itu. Ternyata hal ini terasa beraaaaat sekali.... ini sama saja dengan membunuh diriku sendiri...(tetapi ia tidak berakar dan tahan sebentar saja. apabila datang penindasan atau penganiayaan karena firman itu, orang itu pun segera murtad)

Diriku... yang sangat berharga itu... yang sangat hebat itu... yang sangat perlu untuk diperhatikan itu... yang sangat membutuhkan pengakuan itu... pribadi itu harus dimatikan...

Jujur aku tidak mengatakan bahwa aku rela melakukannya seratus persen, tetapi sampai hari ini, aku melakukannya dengan kesadaran... bahwa ini memang perlu... ini memang jalan yang terbaik agar aku mendapatkan yang terbaik... dan ternyata memang selalu benar! (sebab siapa yang telah mati, ia telah bebas dari dosa).

20090316

memiliki atau tidak memiliki?

Reaksi yang umum ditunjukkan oleh teman-teman saat telah menyelesaikan suatu program pelatihan yang memperkaya pengetahuan, pengertian, dan keahlian adalah reaksi yang penuh dengan kegembiraan dan semangat untuk segera dapat membagikan apa yang baru saja didapat kepada teman-teman di tempat asal.

Rasanya hati sarat dengan kemampuan yang harus segera dibagikan. Dipenuhi dengan semangat yang meneriakkan: "akulah orang yang terpintar sedunia.. aku mampu lakukan semua.. aku mau ajarkan kalian.. mari dengarkan aku, aku punya sesuatu yang baru..."

Mungkin yang tidak pernah terpikir adalah.. ketimbang sekedar bagaimana membagikan ilmu yang baru didapatkan secuplik kepada semua.. bagaimana sebenarnya aku mendapatkan sumber yang tidak terbatas yang akan terus mengalir kepada semua yang kita temui...

Saat kita dipenuhi sedikit dan langsung merasa bisa, bukankah lebih baik lagi saat kita justru merasa ternyata ada bannyak yang selama ini ternyata aku belum tahu yang sudah diketahui oleh orang-orang lain sehingga akhirnya mereka bisa mengajarku.. bagaimana caranya agar aku dapat menjadi seperti mereka?

Siapa yang mengajar mereka, bagaimana mereka belajar... kalau mereka bisa aku juga pasti bisa.. asal saja aku sediakan tempat di hatiku untuk terus di-isi dan aku terhubung dengan sumber yang sama dengan sumber yang mereka andalkan..

Dan yang sangat mungkin untuk tidak terpikir adalah saat kita ingin terhubung kepada Sumber yang tak terbatas itu, suatu teriakan bukanlah pada tempatnya tetapi suatu 'keterdiaman'; 'ketenangan'; 'penantian' akan jauh lebih berguna... (tetapi orang-orang yang menanti-nantikan TUHAN mendapat kekuatan baru: mereka seumpama rajawali yang naik terbang dengan kekuatan sayapnya; mereka berlari dan tidak menjadi lesu, mereka berjalan dan tidak menjadi lelah.)

20090311

aku perlu waktu




Suatu elemen yang sangat penting untuk kuperhatikan saat aku sedang mencerna suatu persoalan adalah elemen waktu. Elemen waktu menjadi suatu elemen yang sangat penting karena aku menyadari keterbatasan kemampuanku untuk menerima suaraNya. Saat mencerna suatu masalah, sebagai anakNya apa yang dikatakanNya tentunya haruslah merupakan substansi yang tak tergantikan.

Memiliki pendapat pribadi bagiku tidak sulit. Tetapi tentu saja pendapatku itu adalah pendapat yang sangat terbatas. Dibatasi oleh pengalaman masa laluku yang belum seberapa, pengetahuanku yang benar-benar tidak seberapa dan pengertianku yang sangat dangkal... dan terlalu berbahaya tentunya bagiku untuk menilai segala sesuatu bila hanya berdasarkan pendapat pribadiku yang sangat terbatas itu.

Aku menyadari bahwa kemampuanku menangkap suaraNya memang semakin lama semakin terasah, tetapi tetap saja buatku hal itu kadang-kadang bukan sesuatu yang terjadi dengan otomatis. Ada kalanya situasi di sekitarku membuatku sulit sekali untuk menangkap suaraNya. Banyaknya pendapat-pendapat yang datang dari rekan-rekan, atau suara hatiku sendiri yang penuh dengan pendapat dangkal dan keinginan, bahkan ketakutan-ketakutan...

Oh betapa semua itu terkadang membuatku merasa suaraNya menjauh.. atau terdengar begitu asing.. seolah-olah bukan suara yang penuh dengan pertolongan seperti yang kuharapkan, tetapi malah terdengar penuh pukulan.. walaupun akhirnya aku selalu menemukan bahwa Dia sedang membawaku ke jalan-jalanNya yang luar biasa, jauh dari apa yang dapat kubayangkan, sulit dicerna oleh keterbatasanku tentunya... ("Mari, kita akan berbalik kepada Tuhan, sebab Dialah yang telah menerkam dan yang akan menyembuhkan kita, yang telah memukul dan yang akan membalut kita...").

Saat menanti-nantikan suaraNya tiba, waktu terasa berjalan begitu lambat, kehidupan seperti sementara sedang berlangsung di bawah permukaan air... jarum jam berputar seperti jam yang hampir kehabisan tenaga baterainya... kegelisahan menjadi sahabat di hati, keraguan dapat muncul setiap saat, dan pada saat seperti inilah imanku yang sebenarnya dapat teruji... apakah imanku tetap merupakan iman yang kuat, berpegang teguh pada janji-janjiNya, walaupun penggenapan bahkan suaraNya pun seakan belum lagi datang padaku? (Tetapi tanpa iman tidak mungkin orang berkenan kepada Allah. Sebab barangsiapa berpaling kepada Allah, ia harus percaya bahwa Allah ada, dan bahwa Allah memberi upah kepada orang yang sungguh-sungguh mencari Dia).

Tetapi sesungguhnya aku membutuhkan waktu-waktu penantian seperti ini... hanya waktu-waktu seperti ini yang kemudian membuatku mengizinkanNya lebih lagi berbicara untuk memperkuat dan menambah imanku kepadaNya... kecenderunganku secara pribadi ingin sekali rasanya menghilangkan unsur waktu tetapi Dia selalu baik.. Dia sungguh paling tahu kapan elemen waktu benar-benar pelu ditambahkan, untuk memberikan keberhasilanNya bagiku... keberhasilan yang pasti jauh lebih indah dari keberhasilan yang dapat ku-usahakan sendiri.. Bukan Dia baik... setiap waktu?

20090310

mulai dengan benar, akhiri dengan benar

Kecenderungan untuk bereaksi negatif merupakan indikasi masih adanya kedudukan hati yang belum benar dalam hatiku. Hati yang benar akan selalu bereaksi benar. Hati yang dipenuhi dengan kasih ilahi akan selalu memiliki kapasitas yang besar untuk menampung segala sesuatu, terlebih saat aku juga mengerti bahwa aku tidak perlu harus selalu langsung bereaksi terhadap segala aksi-aksi yang datang padaku.

Setelah aku mendapat pengertian yang benar terhadap apa yang disampaikan, dalam hal ini pengertian yang dimaksud tentu sangat perlu juga dilihat dari sudut pandang orang yang menyampaikannya kepada-ku, maka selanjutnya aku dapat menentukan reaksi yang benar yang harus ku-berikan. Dan reaksi yang benar selalu dimulai dari dalam sebelum reaksi tersebut disampaikan di luar.

Apakah aku perlu bertobat, atau aku perlu menghormati tanpa harus mengubah pendapat pribadi? Saat aku bertobat di dalam, aku perlu meminta maaf sebagai tindakan di luar. Saat aku menghormati di dalam, aku akan menyampaikan simpati dan menerima pendapatnya sebagai reaksi di luar. Menerima belum tentu membuat-ku harus segera mengubah pendapat-ku. Kadang-kadang aku menemukan, pendapat yang benar bagi orang lain bukanlah pendapat yang benar bagi-ku. Mungkin karena titik proses-ku belum sampai di sana. Atau justru aku sudah melampauinya.

Kesimpulan akhir dari semua..., ternyata melahirkan reaksi yang benar merupakan suatu proses yang panjang, yang dimulai dari keahlian mendengar yang sekaligus akan menahan-ku dari melahirkan reaksi-reaksi yang salah, sehingga langkah-langkah berikutnya dalam proses itu dapat diselesaikan... apakah Saudara mendengarkan?

tentukan reaksimu di dalam


Saat aku berkonsentrasi pada pekerjaan mendengar, maka aku akan terhindar dari melakukan hal-hal yang kurang penting, walaupun memang sepertinya aku akan terlihat di luar seperti sedang tidak bereaksi, hanya diam saja. Kebanyakan orang takut bila terlihat hanya berdiam sendiri, karena mungkin akan terlihat seolah-olah seperti orang bodoh yang tidak tahu apa yang harus dikerjakan. Tetapi bila aku mengerti bahwa diam di luar bukan berarti bahwa aku diam di dalam, bahkan aku sebenarnya sementara sedang melakukan pekerjaan yang sangat penting di dalam, maka aku akan tahu memilih mana yang harus dikerjakan lebih dulu. Bagaimana pun, yang di luar tidak akan menjadi reaksi yang benar, saat yang di dalam belum menjadi reaksi yang benar lebih dulu.

Saat aku berdiam diri di luar, maka di dalam hati aku sedang mengolah hal-hal yang aku terima dari luar. Apakah aku mengerti hal-hal itu, apakah aku setuju? Kadang-kadang yang menjadi permasalahan bukan hal aku mengerti atau tidak, setuju atau tidak, tetapi cara menyampaikan hal tersebut bisa saja sudah lebih dulu membuat hati-ku seperti tercobai untuk cenderung bereaksi negatif. Dan ini pun merupakan hal yang penting untuk kutangkap sebagai hal yang perlu kuperhatikan.

(bersambung..)

20090309

perbesar kapasitas mendengar

Saat aku memiliki hati yang tenang, aku dapat menjaga kapasitas hati-ku agar tetap ada pada posisi optimum. Hati yang tenang dapat diharapkan untuk memberi reaksi-reaksi yang benar, walaupun aksi-aksi yang datang tidak selalu merupakan aksi yang benar. Aku menemukan untuk menghindari reaksi yang salah dan memberi reaksi yang benar, ternyata ada proses yang harus kulalui dan kerjakan sebelumnya. Apa langkah-langkah yang termasuk dalam proses itu?

Hati yang tenang dapat dipastikan memiliki prinsip yang tegas, disertai dengan pengertian yang benar dan dibangun di atas dasar yang kokoh, yaitu Firman Tuhan, dilaksanakan dengan kasih yang diterima dari Allah sendiri. Hati yang seperti ini tentunya hanya dapat diperoleh dari keintiman yang dalam dengan Tuhan.

Hal awal yang dapat kulakukan untuk menghasilkan reaksi yang benar adalah memiliki hati yang terbuka. Hati yang terbuka berarti hati yang mau mendengar. Saat aku mendengar sebenarnya aku sedang diperkaya atau mungkin juga sedang masuk dalam suatu pengujian. Yang mana yang sedang terjadi dapat kuketahui waktu aku mendengar dengan benar. Mendengar dengan benar berarti mendengar dengan penuh perhatian dan dengan penuh empati...

(bersambung..)

20090308

perhatikan kapasitas-mu...


aku ketemu kalo kita merhatiin kecepatan langkah yang tepat, pasti kapasitas-ku bisa terjaga baik... masih ada cukup tempat buat hal-hal seperti ini:

*ngetawain diri sendiri ketimbang ngasihanin diri sendiri

*ngebahas kesalahan pribadi en ga perlu kehilangan senyuman

*inget-inget kenangan indah yang nambah semangat

*ngebayangin berkat-berkat yang bentar lagi dateng :)

n yang aku ketemu, untuk tetap punya langkah yang tenang aku perlu AMBIL WAKTU... karena ada banyak hal-hal luar biasa dalam hidup ini, yang dikaruniakan dari surga untuk dinikmati, ketimbang harus selalu mengejar keberhasilan dalam pekerjaan... ¨tidak ada seorang pun yang dapat mengambil sesuatu bagi dirinya, kalau tidak dikaruniakan kepadanya dari sorga¨

kecepatan langkah hati akan nentuin kecepatan langkah pikiran, dan terasa di kecepatan langkah bicara, tindakan dan hasil-hasil pekerjaan... akhirnya semua membentuk ATMOSFIR yang aku keluarkan...

seberapa cepat kita berhubungan dengan surga? itulah seharusnya yang menjadi kecepatan langkah kita!

hati yang produktif pasti langkahnya tenang, optimal, ga kecepetan tapi juga ga terlalu pelan.. santai tapi serius... bukan hati yang kecapean, keberatan beban... so, ambil waktu buat ngatasin kelelahan yang ga bisa lagi dihindarin waktu kita paksakan diri untuk terus-menerus kerja...

have your afternoon tea.., or an hour of loose reading (choose another subject really really different from your work - mine will be interior magazine so my eyes get entertained as well), watch a comedy on tv, or just cook some plain biscuit..

and most of all, tentu saja semua perlu berlanjut agar komunikasi-ku dengan Tuhan jadi ga buntu, tapi bisa berlangsung lebih baik dan ga sekedar berisi minta-minta ato ngadu-ngadu masalah aja... aku jadi bisa lebih banyak denger dari Tuhan...

untuk tetap tenang perlu hati yang besar... yang muat nampung segala macem beban tanpa harus ditarik sampe otot-otot keluar... jadi kalo hati kita udah kepenuhan, beban-bebannya perlu dibersihin, jangan sampe kita harus bawa beban-beban yang ga perlu..., ...marilah kita menanggalkan semua beban dan dosa yang begitu merintangi kita,...

kalo kita bawa yang memang perlu aja semua jadi ringan, en kalo ringan semua jadi lapang, semua terakomodasi... ga harus ada usaha ekstra, tapi malah sambil menikmati...

ketenangan n kenikmatan ini yang akan terimpartasi, keluar sebagai atmosfir kita...!

ini foto meja kerjaku... cukup besar, bisa menampung beberapa pekerjaan sekaligus... aku mau hatiku seperti ini... siap pakai, lapang... pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan. Sebab kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Ku pun ringan.