seperti orang-orang lain, aku juga punya cita-cita. walaupun sudah berkepala empat (percayalah kepalaku masih tetap yang itu-itu juga dan jumlahnya memang cuma satu... hhhmmmh bahasa kita mungkin sedikit mengerikan ya...), aku tetap merasa bahwa ada sesuatu di jauh sana yang harus kucapai.
sering aku membayangkannya... sambil senyum-senyum sendiri.. wow.. luar biasa sekali kalau pada akhirnya aku tiba di sana.. aku perhatikan bagaimana aku sedang bergerak, dengan senyuman yang pas dengan kejadian dan prestasi yang kucapai.. dan kuperhatikan juga orang-orang yang ada di sekitarku saat itu... banyak yang belum kukenal tentu.. dan lingkunganku.. berbeda sekali dengan apa yang kumiliki hari ini...
tapi tunggu... setelah kusimak baik-baik, aku mulai menyadari bahwa aku pada cita-citaku ternyata bukan aku yang sekarang... sangaaat jauh berbeda bahkan.
bukan aku yang berantakan, malas tersenyum, malas melihat kiri dan kanan, malas membangun hubungan, lebih sering dari tidak malasku yang terbesar kutemukan saat aku bangun pagi, malas makan, apalagi makan vitamin, hohhooooh.... dalam cita-citaku kulihat aku tidak seperti itu... rasanya itu bukan aku... itu orang lain...
tapi sulit sekali bagiku untuk melepaskan diri dari cita-citaku.. hal itu terus terbayang semakin hari semakin jelas... tapi bagaimana mungkin kucapai kalau ternyata cita-citaku sendiri tidak membutuhkan aku... aku yang sekarang...
ini yang akhirnya membuat aku bertanya-tanya... aku yang terkini ternyata tidak memenuhi kriteria yang diperlukan untuk menggapai cita-citaku... dan artinya? hah? berarti... berarti untuk mencapai cita-citaku, aku harus membuang aku yang terkini? aku harus mengorbankannya? aku harus meninggalkannya? menanggalkannya? mereka tidak membutuhkan aku... mereka bahkan tidak bisa bekerja sama dengan aku.. aku sendiri tidak ada dalam skenario itu... aku tidak diperhitungkan sama sekali...
memiliki cita-cita akhirnya bagiku sama seperti mendekati hari kematian... ada yang kupertahankan tetapi aku tahu bahwa kerelaanku menentukan segala keberhasilan.. aku mau merelakan segalanya..., ooops tunggu dulu, did I saya segalanya? bagaimana dengan diriku sendiri? setelah aku merelakan segalanya ternyata itu belum cukup... cita-citaku malah masih menuntut agar aku merelakan diriku juga... hiks hiks hiks...
rasanya aku ingin berlari kesana kemari mencari pintu untuk keluar, tetapi semua pintu ternyata terkurung dengan rapat, dan... here I am... sampai aku menyadari bahwa jalan keluar satu-satunya adalah pintu menuju cita-citaku... yang jelas-jelas tidak membutuhkan aku hari ini... aku harus masuk ke pintu cita-citaku dan meninggalkan aku di sini... aku tidak harus melakukannya, tapi aku dapat memilih untuk melakukannya dan aku dapat memilih untuk mau melakukannya...
20090331
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment