
Suatu elemen yang sangat penting untuk kuperhatikan saat aku sedang mencerna suatu persoalan adalah elemen waktu. Elemen waktu menjadi suatu elemen yang sangat penting karena aku menyadari keterbatasan kemampuanku untuk menerima suaraNya. Saat mencerna suatu masalah, sebagai anakNya apa yang dikatakanNya tentunya haruslah merupakan substansi yang tak tergantikan.
Memiliki pendapat pribadi bagiku tidak sulit. Tetapi tentu saja pendapatku itu adalah pendapat yang sangat terbatas. Dibatasi oleh pengalaman masa laluku yang belum seberapa, pengetahuanku yang benar-benar tidak seberapa dan pengertianku yang sangat dangkal... dan terlalu berbahaya tentunya bagiku untuk menilai segala sesuatu bila hanya berdasarkan pendapat pribadiku yang sangat terbatas itu.
Aku menyadari bahwa kemampuanku menangkap suaraNya memang semakin lama semakin terasah, tetapi tetap saja buatku hal itu kadang-kadang bukan sesuatu yang terjadi dengan otomatis. Ada kalanya situasi di sekitarku membuatku sulit sekali untuk menangkap suaraNya. Banyaknya pendapat-pendapat yang datang dari rekan-rekan, atau suara hatiku sendiri yang penuh dengan pendapat dangkal dan keinginan, bahkan ketakutan-ketakutan...
Oh betapa semua itu terkadang membuatku merasa suaraNya menjauh.. atau terdengar begitu asing.. seolah-olah bukan suara yang penuh dengan pertolongan seperti yang kuharapkan, tetapi malah terdengar penuh pukulan.. walaupun akhirnya aku selalu menemukan bahwa Dia sedang membawaku ke jalan-jalanNya yang luar biasa, jauh dari apa yang dapat kubayangkan, sulit dicerna oleh keterbatasanku tentunya... ("Mari, kita akan berbalik kepada Tuhan, sebab Dialah yang telah menerkam dan yang akan menyembuhkan kita, yang telah memukul dan yang akan membalut kita...").
Saat menanti-nantikan suaraNya tiba, waktu terasa berjalan begitu lambat, kehidupan seperti sementara sedang berlangsung di bawah permukaan air... jarum jam berputar seperti jam yang hampir kehabisan tenaga baterainya... kegelisahan menjadi sahabat di hati, keraguan dapat muncul setiap saat, dan pada saat seperti inilah imanku yang sebenarnya dapat teruji... apakah imanku tetap merupakan iman yang kuat, berpegang teguh pada janji-janjiNya, walaupun penggenapan bahkan suaraNya pun seakan belum lagi datang padaku? (Tetapi tanpa iman tidak mungkin orang berkenan kepada Allah. Sebab barangsiapa berpaling kepada Allah, ia harus percaya bahwa Allah ada, dan bahwa Allah memberi upah kepada orang yang sungguh-sungguh mencari Dia).
Tetapi sesungguhnya aku membutuhkan waktu-waktu penantian seperti ini... hanya waktu-waktu seperti ini yang kemudian membuatku mengizinkanNya lebih lagi berbicara untuk memperkuat dan menambah imanku kepadaNya... kecenderunganku secara pribadi ingin sekali rasanya menghilangkan unsur waktu tetapi Dia selalu baik.. Dia sungguh paling tahu kapan elemen waktu benar-benar pelu ditambahkan, untuk memberikan keberhasilanNya bagiku... keberhasilan yang pasti jauh lebih indah dari keberhasilan yang dapat ku-usahakan sendiri.. Bukan Dia baik... setiap waktu?
No comments:
Post a Comment