sabar dulu... bukan maksudku untuk menjadi narsis... tetapi judul di atas memang benar... yang pertama-tama tentu aku.... yaaaaang... BERSALAH.
karena di-ikutsertakan dalam penyelesaian masalah teman sekorps di mana aku harus menjadi orang yang mendampinginya kesana kemari untuk meminta maaf dan menyelesaikan hal-hal yang memang sudah tertunda lama, aku sendiri tidak tahu tepatnya kenapa... tapi ini yang kupelajari:
penyelesaian dimaksud sebenarnya bertujuan agar temanku bertobat, menyadari kesalahannya dan berubah dalam sikapnya. tetapi alih-alih bersikap demikian, sang teman justru menyalahkan segala macam pihak itu bukan dirinya...
buatnya... dia selalu benar... mungkin juga dia punya pengurapan seorang raja... karena memang kan pernah dikatakan, the king can do no wrong...
hanya memang harus kuakui, sikapnya yang cukup pongah itu tidak mengundang simpati dari siapapun (kecuali dirinya sendiri tentu). terlebih-lebih diriku, aku jadi-jadinya malah sangat bersyukur kepada Tuhan, walaupun pasti masih banyak sikapku yang juga masih pongah tetapi rasa-rasanya aku masih punya hati nurani yang dapat membedakan bahwa tidaklah tepat sebagai seseorang yang telah melakukan kesalahan untuk bersikap seolah-olah dirinya tak pernah bersalah malahan menyalah-nyalahkan orang lain...
karenanya dari hal ini aku belajar sesuatu.. bahwa dalam segala persoalan, pasti aku juga punya andil salah. karenanya saat menghadapi persoalan, yang pertama-tama tentu aku yang harus kuselidiki dengan segala kejernihan di hati... apa bagianku yang tidak kulakukan?
aku terlalu berpusat pada keuntungan pribadi di pihakku sendiri? aku kurang dapat menerima kekurangan-nya? aku kurang punya tempat di hati buat segala hal yang menjengkelkan itu?
alih-alih berfokus pada benefits yang menurutku seharusnya aku dapatkan... aku melihat bahwa justru yang cepat memberikan hasil adalah bila aku memikirkan apa yang menjadi keuntungan-nya, atau bagaimana caranya aku dapat menerima dia dengan segala kekurangannya yang menjengkelkan itu. Ternyata hal ini terasa beraaaaat sekali.... ini sama saja dengan membunuh diriku sendiri...(tetapi ia tidak berakar dan tahan sebentar saja. apabila datang penindasan atau penganiayaan karena firman itu, orang itu pun segera murtad)
Diriku... yang sangat berharga itu... yang sangat hebat itu... yang sangat perlu untuk diperhatikan itu... yang sangat membutuhkan pengakuan itu... pribadi itu harus dimatikan...
Jujur aku tidak mengatakan bahwa aku rela melakukannya seratus persen, tetapi sampai hari ini, aku melakukannya dengan kesadaran... bahwa ini memang perlu... ini memang jalan yang terbaik agar aku mendapatkan yang terbaik... dan ternyata memang selalu benar! (sebab siapa yang telah mati, ia telah bebas dari dosa).
20090324
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment