20090417

Seberapa nilaiku?

Tulisanku kali ini mungkin terkesan bertele-tele. Berputar-putar tanpa ujung. Tapi memang demikian sebenarnya gambaran yang ingin kuceritakan. Terkadang aku memang seperti itu, bertele-tele, bahkan mungkin sedikit bebal, seperti Thomas, penuh ketidak-percayaan, bila belum melihat bukti aku sulit untuk menerima kebenaran, bahkan baru dapat menerima kebenaran setalah menerima bukti berkali-kali. Contohnya seperti di bawah ini.


Saat aku mengerti bahwa aku jauh dari sempurna, aku mulai bertanya kepada Penciptaku, Pemilikku... apakah aku dapat menjadi sempurna? Ternyata jawabanNya tak seperti yang kubayangkan. DikatakanNya bahwa sesungguhnya aku sudah sempurna, yang perlu kulakukan hanyalah mengeluarkan kesempurnaan itu dari padaku. Tak ada sesuatu pun yang dapat menahanku dari mengeluarkan kesempurnaan itu kecuali aku sendiri.


Betul juga. Kupikir-pikir lagi, tak seorang pun yang mengatakan aku tidak bisa, tapi sering kudengar aku mengatakannya bagi diriku sendiri. Tak seorangpun mengatakan aku tidak punya apa yang diharapkan dari padaku, tapi memang aku sendiri yang sering mempertanyakannya. Banyak orang mengakui diberkati melaluiku, tapi aku sering meragukannya. Semua orang percaya masa depanku luar biasa, terkadang aku mempertanyakannya kepada Dia..


Tapi dari semua kebodohan dan keterbatasanku, ternyata Dia tetap tidak mau mengubah pandanganNya. Tetap dengan tegas mengatakan bahwa aku sudah sempurna. Bahkan dikatakanNya bahwa kesempurnaanNya adalah kesempurnaanku. Hanya Dia balik bertanya kepadaku, apa yang ingin kulakukan dengan kesempurnaan itu?


Ini pertanyaan yang cukup menggelitik bagiku. Ini pertanyaan yang membuatku menjadi tercenung. Sedikit gelisah... yang kudapati ternyata aku menaruh harga yang begitu rendah terhadap diriku sendiri... sehingga lebih sering aku memutuskan mungkin ini bukanlah saatnya untuk melakukan apa-apa. Bukan waktuku untuk menghasilkan apa-apa. Bukan bagianku untuk mengadakan perubahan apapun...


Sementara Dia sendiri tak pernah menyesali karuniaNya kepadaku. Dia tak pernah menahanku untuk lakukan apapun. Terkadang bahkan Dia tak menahanku dari melakukan kesalahan. Mencegahku ya, tapi tidak menahanku. Sepanjang kesalahanku tidak membawa pada kehancuranku. Mungkin aku yang lebih sering memaksa untuk Dia izinkan aku melakukan apa yang kukehendaki. Dia hanya kemudian mengingatkanku apa yang menjadi kehendakNya. Tapi Dia tak pernah memaksakan kehendakNya bagiku.


Padahal apa yang kukehendaki sering kali membawaku justru menjauh dari kesempurnaan yang telah ditaruhNya dalamku... saat aku dapati aku jauh dari itu semua, ingin rasanya menyalahkan Dia ketimbang mengambil tanggung jawab untuk menanggung kesalahan yang kupilih sendiri untuk melakukannya. Malu rasanya mengakui bahwa aku yang sebenarnya bersalah dari awalnya. Tapi sikap seperti itu pun tidak memberikanku pilihan apa-apa, semakin kucari semakin sulit kutemukan kesalahan yang ada padaNya... Dia sungguh-sunggguh sempurna, dan tentunya Dia tak salah saat katakan aku diciptakanNya juga sempurna. Tentu yang sempurna hanya dapat melahirkan yang sempurna juga. Lalu kenapa aku masih harus mengambil jalan-jalanku sendiri?


Kejadian seperti ini terkadang harus berkali-kali terjadi. Sepertinya ada raasa penasaran kalau aku belum membuktikan diriku benar. Walaupun berkali-kali juga aku harus akui bahwa hanya Dia saja yang benar. Dan memang bahkan tak pernah kubuktikan bahwa aku yang benar. Hingga akhirnya kuputuskan, biarlah kebenaranNya menjadi kebenaranku. Agar kesempurnaanNya menjadi kesempurnaanku. Kalau Dia telah mengatakanNya, biarlah terjadi demikian, karena memang demikianlah halnya harus terjadi.

No comments:

Post a Comment