20100510

hari-hari ini aku mendapati diriku lebih banyak akhirnya harus terdiam... karena tak tahu lagi apa yang harus kukatakan... saat kujumpai sesuatu yang tidak mengena di hati... tidak pas dengan apa yang kuketahui sebagai kebenaran... biasanya aku langsung membuka mulut untuk berkomentar heran... tetapi toh pribadi yang menyajikan persoalan tenang-tenang saja seakan tidak menyadari bahwa ada sesuatu yang tidak pas yang telah dilakukannya...

ingin segera aku menghampiri untuk memberitahu... tetapi saat aku sedang merenungkan kata-kata yang harus kusampaikan, suaraNya terdengar lebih menggema menguasai hatiku...

seakan digambarkanNya bahwa kebenaran yang menurutku benar belum lah dapat diterimanya sebagai kebenaran-nya... bukan karena dia tidak mau...tetapi karena memang kualitas hati, pengalaman, pemahaman, penalaran-nya belum siap untuk menerima kebenaran sedemikian...

kalau sudah begini, aku menyerah... tetapi hatiku terasa begitu berat dan penuh... seakan ada bongkahan batu-batu besar yang menyaratinya...

hingga kemudian kusadari, Dia tidak ada bagiku untuk mengambil semua itu... tetapi Dia sedang menantikanku untuk membuang semua itu... menanggalkannya... meninggalkannya... mengeluarkannya dari hatiku... oooh... terasa begitu berat... bukankah itu kebenaranku yang begitu tinggi nilainya? mengapa harus kutanggalkan, kutinggalkan dan kukeluarkan, kubuang jauh-jauh...

kadang aku harus memaksa diriku untuk melakukannya... kadang bahkan disertai dengan air mata, karena ternyata kebenaranku telah mengikatku sehingga sulit bagiku untuk menyatukan diri dengan orang lain yang belum memiliki kebenaran itu... saat ikatan itu harus dilepaskan, ada bagian dari kedaginganku yang ikut tercabik... mungkin juga berdarah-darah... dan diizinkanNya (baca: dilatihNya) aku menanggung sendirian kepedihannya...

yang ajaib... setelah kutanggalkan semua (kuakui tidak dengan rela pada awalnya tentunya)..., ada suatu rasa plong di hati... ringan sekali... dan bagaimanapun lebih mudah bagiku untuk mengasihi seseorang saat suasana hatiku lega seperti ini... dan damai sejahteraNya pun kemudian bisa kunikmati kembali...

akhirnya setelah semua terjadi, baru aku kembali belajar mengerti bahwa hadiratNya perlu tahta kasih karunia yang lapang di hatiku, dan nilai dari damai sejahtera yang ingin dilimpahkanNya tentu jauh lebih berharga dari perbedaan pendapat yang kupertahankan sebelumnya...

dan tentunya melalui kebodohan-kebodohan yang ada, aku belajar bahwa RohNya benar-benar mentor yang tersabar yang pernah kumiliki dalam hidup ini...

20100422

sering kali perempuan menulis untuk membela keperempuanannya... aku tidak tau harus mengatakan apa, tapi memang aku pikir sebagai perempuan aku perlu diperlakukan sebagai perempuan..

teringat pengalaman terakhir sewaktu aku memimpin suatu rapat, yang dihadiri oleh para pria.. pada mulanya semua berjalan dengan baik (baca: biasa-biasa saja..), tetapi menjelang akhir dari rapat tersebut, seorang peserta menjadi begitu berapi-api (baca: emosional)..

dan pada saat itulah aku merasakan suatu ketakutan yang walaupun sangat tipis, aku tau ada di sana.. aku bertanya-tanya, apa yang kutakutkan sebenarnya? badannya? suaranya yang keras? atau..?

dan saat itulah kusadari, ternyata aku takut saat harus masuk ke dalam suatu dunia yang bukan duniaku.. sutu dunia yang asing bagiku.. di mana hal-hal yang tak kupahami ada di sana.. uukkh..

jarang kudengar seorang laki-laki bersuara keras, jarang kudengar seorang laki-laki tiba-tiba terdengar pongah, jarang kudengar seorang laki-laki menyuarakan hatinya yang penuh dengan keinginan...

semua itu asing bagiku... suatu gambaran yang membuatku mati akal dalam meresponinya...

dan tiba-tiba suatu pertanyaan muncul dalam hatiku, benarkah sesungguhnya sebagai seorang peremuan, duniaku toh ternyata tetap ditentukan oleh para laki-laki.. mereka yang selama ini memberi warna dalam hidupku..

tetapi mungkin warna yang mereka goreskan sesuai dengan warna-warna yang kusukai dan membentuk metafora kehidupanku menjadi penuh dengan kelembutan yang dapat kunikmati, ketimbang goresan-goresan yang sepertinya dibuat dengan arang berjelaga yang membawa kelamnya ketakutan...

atau seperti apakah sebenarnya aku harus bereaksi.. apakah aku tidak perlu takut walaupun aku seorang perempuan, atau wajar kalau aku takut karena aku seorang perempuan? rasa-rasanya dalam hal ini tak ada yang harus aku pertahankan...

20100414

aku belum sempat saat teduh pagi ini... hiks..
biasanya pagi-pagi bangun tidur pasti kuraih buku kehidupanku dan menyerap kekuatanku untuk sepanjang hari...
tapi entah kenapa pagi ini rasanya pancuran air di kamar mandi lebih mengundangku untuk bergerak dan sesudahnya rentetan kesibukan lainnya seperti menarikku yang tanpa sadar pun segera mengikuti..

salahkah aku? kalau aku salah, apa sih sebenarnya kesalahanku? karena ada tauratku yang kulanggar? atau mungkin itu hanya tuduhan si jahat yang tidak perlu kulayani?

sebentar aku meneropong ke dalam hati nurani.. tidak ada yang salah di sana.. hanya memang harus kuakui kutemukan kerinduan di sana.. seperti seorang kekasih yang menanti-nantikan perhatian yang belum kunjung terjawab..

aku ga tau siapa merindukan siapa.. mungkin aku sendiri yang merindukanNya, atau itu Dia yang merindukanku.. tapi dari apa yang terjadi sepanjang pagi ini, sesuatu yang pasti telah kupelajari.. ternyata... melipat tangan, menundukkan kepala dan menutup mata, meminta RohNya memindahkanku ke surga agar aku dapat bertemu dengan Bapa, menyerahkan diriku dan seluruh hari untuk mendapat jamahanNya, adalah ritual yang tak dapat kutinggalkan..

sebagian orang menyebutnya ritual, tapi bagiku itu adalah kebutuhan.. agar aku dapat berjalan dipenuhi dengan damai sejahteraNya, sukacitaNya dan berkat-berkatNya..

20100413

lama kutinggalkan blog ini... awalnya untuk merenungkan kembali tujuan penulisannya.. tapi tentu saja akhirnya seperti cerita-cerita lain pada umumnya.. kesibukan yang kejar mengejar membuatku sempat melupakannya..

sementara aku melupakan untuk menulis, sempat fasilitatorku di Haggai Institute Women Session Singapore baru-baru ini mengingatkan bahwa menulis harus dilakukan setiap hari.. aaagh.. itu kerinduanku tapi sebenarnya cenderung kuhindari karena kalo sudah menulis sulit sekali untuk berhenti..

dan setelah kubaca-baca kembali sepertinya blog ini bersifat sangat narsis sekali.. semuanya mengenai aku, dan aku dan aku lagi.. membosankan..

ingin rasanya kutulis yang lain, tapi ini yang ada di hatiku, ini adalah kejujuranku..

mungkin kalaupun tidak dapat dinikmati oleh orang lain, paling tidak ada catatan tentang sejarah perbendaharaanku...

mungkin bagianku adalah terus rajin menulis kembali, dan mengucap syukur selalu...