teringat pengalaman terakhir sewaktu aku memimpin suatu rapat, yang dihadiri oleh para pria.. pada mulanya semua berjalan dengan baik (baca: biasa-biasa saja..), tetapi menjelang akhir dari rapat tersebut, seorang peserta menjadi begitu berapi-api (baca: emosional)..
dan pada saat itulah aku merasakan suatu ketakutan yang walaupun sangat tipis, aku tau ada di sana.. aku bertanya-tanya, apa yang kutakutkan sebenarnya? badannya? suaranya yang keras? atau..?
dan saat itulah kusadari, ternyata aku takut saat harus masuk ke dalam suatu dunia yang bukan duniaku.. sutu dunia yang asing bagiku.. di mana hal-hal yang tak kupahami ada di sana.. uukkh..
jarang kudengar seorang laki-laki bersuara keras, jarang kudengar seorang laki-laki tiba-tiba terdengar pongah, jarang kudengar seorang laki-laki menyuarakan hatinya yang penuh dengan keinginan...
semua itu asing bagiku... suatu gambaran yang membuatku mati akal dalam meresponinya...
dan tiba-tiba suatu pertanyaan muncul dalam hatiku, benarkah sesungguhnya sebagai seorang peremuan, duniaku toh ternyata tetap ditentukan oleh para laki-laki.. mereka yang selama ini memberi warna dalam hidupku..
tetapi mungkin warna yang mereka goreskan sesuai dengan warna-warna yang kusukai dan membentuk metafora kehidupanku menjadi penuh dengan kelembutan yang dapat kunikmati, ketimbang goresan-goresan yang sepertinya dibuat dengan arang berjelaga yang membawa kelamnya ketakutan...
atau seperti apakah sebenarnya aku harus bereaksi.. apakah aku tidak perlu takut walaupun aku seorang perempuan, atau wajar kalau aku takut karena aku seorang perempuan? rasa-rasanya dalam hal ini tak ada yang harus aku pertahankan...
Berada di antara dua sisi wujud gender ...memang ngga ada yang harus dipertahankan... tapi hanya satu yang dapat menjembatani... kasih ...
ReplyDeleteyess... aku setuju... pendapatmu jitu sekali!!! thanks a lot Edha...
ReplyDelete